Kondisi bisnis di properti sedang dalam kondisi waspada. Alasannya,
saat ini kondisi perekonomian Indonesia sedang dalam gejolak. Gejolak
tersebut terkait dengan kondisi suku bunga bank yang relatif tinggi
akibat melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.
Dikhawatir kalau kondisi ekonomi kita akan terus memburuk . Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas lima persen, bisa dikatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih bagus. Keberlangsungan bisnis properti ini tak hanya tergantung pada tingkat suku bunga dan gejolak kurs rupiah, namun juga tergantung pada harga dan keberlangsungan bahan baku. Oleh karena masih dalam kondisi waspada, disarankan agar pelaku usaha menerapkan sistem wait and see.
Wait and see ini artinya menunggu sampai ada momen perekonomian membaik. Membaiknya situasi perekonomian juga terkait dengan situasi politik. Ada baiknya jika pelaku usaha dan pemodal menunggu hingga momen Pemilu 2014. Sedangkan dalam jangka pendek bisa menunggu sampai nilai tukar rupiah menjadi stabil.
Pertumbuhan bisnis properti di Indonesia pada 2014 diperkirakan bakal melambat terutama pada produk apartemen dan perkantoran strata title (dijual bukan disewakan) . Sehingga bakal banyaknya pasokan properti di tahun depan namun tidak dibarengi dengan permintaan.
Pertumbuhan properti akan melambat. Secara umum pertumbuhan harga jual dan sewa agak melambat, pasokan jauh lebih banyak. Suplai lebih banyak dari demand. Para pengembang kan di tahun 2012 itu banyak melakukan pembangunan yang biasanya baru beroperasi di 2014. Sementara tahun ini para investor sudah banyak membeli properti sehingga tahun depan banyak properti jadi, banyak pasokan tapi nggak diikuti permintaan. Melambatnya sektor properti terutama akan terjadi di jenis apartemen dan kondominium, termasuk perkantoran.
Isu melemahnya ekonomi makro Indonesia dan luar negeri khususnya China dan Amerika Serikat berdampak pada pengembang properti dan konsumen. Mereka lebih memilih untuk menunggu saat yang tepat untuk mengambil keputusan terutama untuk sektor gedung perkantoran strata title, kondominium, dan perumahan.
Ada baiknya Indonesia belajar dari Singapura. Selama ini Singapura terbukti lebih baik dan handal dalam mengelola sistem public housing. Indonesia saat ini menjadi sebuah ceruk pasar properti yang sangat dinamis dan hot. Alasannya, sektor properti residensial maupun komersial sama-sama menunjukkan sebuah pertumbuhan yang sangat mengesankan.
Perkembangan sektor properti di Indonesia, pencapaian sektor properti Indonesia, khususnya Jakarta, terlihat sangat mengesankan.
Pertumbuhan terjadi di hampir seluruh lini mulai dari permintaan, pasok, hingga harga. Properti residensial, dan juga komersial seperti pusat belanja, perkantoran, hotel serta kawasan industri melesat ke rekor tertinggi.
Dikhawatir kalau kondisi ekonomi kita akan terus memburuk . Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas lima persen, bisa dikatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih bagus. Keberlangsungan bisnis properti ini tak hanya tergantung pada tingkat suku bunga dan gejolak kurs rupiah, namun juga tergantung pada harga dan keberlangsungan bahan baku. Oleh karena masih dalam kondisi waspada, disarankan agar pelaku usaha menerapkan sistem wait and see.
Wait and see ini artinya menunggu sampai ada momen perekonomian membaik. Membaiknya situasi perekonomian juga terkait dengan situasi politik. Ada baiknya jika pelaku usaha dan pemodal menunggu hingga momen Pemilu 2014. Sedangkan dalam jangka pendek bisa menunggu sampai nilai tukar rupiah menjadi stabil.
Pertumbuhan bisnis properti di Indonesia pada 2014 diperkirakan bakal melambat terutama pada produk apartemen dan perkantoran strata title (dijual bukan disewakan) . Sehingga bakal banyaknya pasokan properti di tahun depan namun tidak dibarengi dengan permintaan.
Pertumbuhan properti akan melambat. Secara umum pertumbuhan harga jual dan sewa agak melambat, pasokan jauh lebih banyak. Suplai lebih banyak dari demand. Para pengembang kan di tahun 2012 itu banyak melakukan pembangunan yang biasanya baru beroperasi di 2014. Sementara tahun ini para investor sudah banyak membeli properti sehingga tahun depan banyak properti jadi, banyak pasokan tapi nggak diikuti permintaan. Melambatnya sektor properti terutama akan terjadi di jenis apartemen dan kondominium, termasuk perkantoran.
Isu melemahnya ekonomi makro Indonesia dan luar negeri khususnya China dan Amerika Serikat berdampak pada pengembang properti dan konsumen. Mereka lebih memilih untuk menunggu saat yang tepat untuk mengambil keputusan terutama untuk sektor gedung perkantoran strata title, kondominium, dan perumahan.
Ada baiknya Indonesia belajar dari Singapura. Selama ini Singapura terbukti lebih baik dan handal dalam mengelola sistem public housing. Indonesia saat ini menjadi sebuah ceruk pasar properti yang sangat dinamis dan hot. Alasannya, sektor properti residensial maupun komersial sama-sama menunjukkan sebuah pertumbuhan yang sangat mengesankan.
Perkembangan sektor properti di Indonesia, pencapaian sektor properti Indonesia, khususnya Jakarta, terlihat sangat mengesankan.
Pertumbuhan terjadi di hampir seluruh lini mulai dari permintaan, pasok, hingga harga. Properti residensial, dan juga komersial seperti pusat belanja, perkantoran, hotel serta kawasan industri melesat ke rekor tertinggi.
No comments:
Post a Comment