Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pagi ini dibuka
terdepresiasi seiring negatifnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
pada awal perdagangan akhir pekan. Kabar positif menguatnya cadangan devisa Indonesia tak cukup kuat
menghadang kekhawatiran pelaku pasar terhadap pemangkasan program
stimulus The Federal Reserves. Kondisi ini membawa nilai tukar rupiah
dan obligasi pemerintah melemah selama dua hari berturut-turut.
Rupiah melemah 0,6% sepanjang pekan ini. Pada perdagangan
hari ini, rupiah melemah 0,1% ke level 11.403 per dolar AS.Di luar negeri, kurs rupiah di pasar Non Delivered Forward
untuk satu bulan ke depan juga melemah 0,8% sepanjang pekan ini. Pada
hari ini, rupiah sedikit berubah ke level 11.378 per dolar AS.Rupiah
di pasar kontrak diperdagangkan 0,2% lebih kuat dibandingkan pasar spot
dalam negeri. Rata-rata pergerakan rupiah pada Oktober tercatat
sebesar 0,9%.
Rupiah dihantam penguatan USD pasca dirilisnya data-data ekonomi
Amerika Serikat (AS) yang sebagian besar menunjukkan pertumbuhan
positif.
Di sisi lain, laju nilai tukar euro yang kembali
mengalami penguatan setelah rilis kenaikan indeks harga perumahan
Inggris, pertumbuhan factory orders Jerman dan peningkatan services PMI di sejumlah wilayah Eropa turut memberikan imbas positif bagi USD. Rupiah di atas target support Rp11.436. Rentang Rp11.415-11.378 berdasarkan kurs tengah BI.Kekhawatiran membaiknya perekonomian AS akan memicu tapering The Fed
yang bakal menarik dana asing keluar dan menekan nilai tukar rupiah.Stabilisasi penguatan nilai tukar rupiah
kemungkinan akan berlangsung terus dengan kecenderungan menguat sampai
akhir tahun.
Sementara itu, surat utang negara 5,625% yang berakhir Mei 2023 naik 12
basis poin sepanjang pekan ini ke level 7,79%.Dari dalam negeri,
kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) kembali
melemah setelah sehari sebelumnya sempat menguat ke level 11.389 per
dolar AS. Kurs tengah rupiah pada perdagangan hari ini berada di level
11.404 per dolar AS.
No comments:
Post a Comment